MELAWAN POLITIK ADU DOMBA DENGAN PERSATUAN UMMAT


 

Assalammualaikum Warohmahtullohiwabarakatuh….

Menyimak berbagai persilangan pendapat mengenai mazhab-mazhab dalam Islam yang berkembang belakangan ini, khususnya tanda-tanda penggunaan kekerasan yang mengancam keutuhan bukan hanya umat Islam melainkan bangsa Indonesia dan NKRI secara keseluruhan, kami dari Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) merasa perlu berbagi sejarah pendekatan antarmazhab dalam Islam kghususnya antara mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.Sesungguhnya inisiatif-inisiatif seperti ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, bahkan telah melahirkan karya-karya besar dalam kedua mazhab besar Islam ini. Tapi, yang mungkin belum bvanyak diketahui adalah aktivitas-aktivitas ke arah yang sama di abad 20 dan abad 21 ini. Khususnya terkait dengan upaya-upaya pendekatan mazhab yang dilakukan secar intensif di Mesir, baik di kalangan gerakan Ikhwanul-Muslimin maupun Al-Azhar. Puncaknya adalah deklarasi yang belakangan disebut sebagai Risalah Amman, yang ditandatangai di ibukota Yordania ini

Ceritanya bermula dengan Imam Syahid Hasan al-Banna, pembawa panji gerakan Islam terbesar era modern, Al-Ikhwan al-Muslimun. Dalam kegigihan beliau memperjuangkan Islam, beliau termasuk salah satu tokoh ide pendekatan antarmazhab dan berperan-serta dalam aktivitas Jamaah Taqrib Baina Al-Mazhahib Al-Islamiyah di Kairo. Mengenai hal ini, salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin Ustad Salim Bahansawi dalam bukunya berkata: “Sejak Jamaah Taqrib Antarmazhab didirikan, dan Imam Hasan al-Banna dan Ayatullah Qummi berperan dalam pendiriannya, kerja sama antara Ikhwanul Muslimin dan Syiah tercipta ( Limaza Ightala Hasan al-Banna, cetakan pertama, Darul I’tisham, hal. 32, yang dikutip dalam buku Al-Sunnah Al- Muftara ‘Alaiha, karya Ustadz Salim al-Bahansawi, cetakan Kairo, hal. 57).
Dalam hubungan ini, DR. Abdulkarim Zaidan, salah satu pemimpin penting Ikhwanul Muslimin Irak menulis: “Mazhab Ja’fari ada di Iran, Irak, India, Pakistan, Libanon dan Suriah atau negara-negara lainnya. Perbedaan a antara fikih Ja’fari dan mazhab lainnya tidak lebih dari perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab lainnya (dalam mazhab Sunni).”(Al-Madkhal li al-Dirasah al-Syariah al-Islamiyyah, hal. 128).

Sementara itu, Ustadz Bahansawi, dalam kitabnya yang sama, membantah bahwa Syiah memiliki Qur’an yang berbeda dengan menyatakan :”Qur’an yang ada di kalangan Ahli Sunnah adalah Qur’an yang ada di masjid dan di rumah-rumah orang Syiah.”Dia juga berkata: “Syiah Ja’fari (12 Imam) meyakini bahwa barang siapa yang men-tahrif Quran … adalah kafir.”

Berpindah ke Al-Azhar, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka universitas ini,berkata dalam kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah (hal. 52): “Tidak bisa disangkal lagi bahwa Syiah adalah salah satu firqah Islam. Tentu saja kita harus memisahkan firqah Sabaiah yang yang mengakui Ali sebagai Tuhan (yang jelas dalam Syi’ah pun dianggap kafir). Dan tidak bisa diragukan lagi bahwa seluruh akidah Syiah berdasarkan nash al-Qur’an atau hadis-hadis yang dinisbahkan kepada Nabi.”

Sekarang, saatnya kita mendengar pandangan Mahmud Syaltut, Syaikh Al-Azhar yang paling terkemuka dalam sejarah-modern institusi ini. Setelah “menganalisa fikih mazhab-mazhab Islami dari Sunni sampai Syiah, berlandaskan dalil dan argumentasi serta tanpa mengedepankan fanatisme kepada ini dan itu”, beliau memfatwakan : “Mazhab Ja’fari yang terkenal dengan mazhab Syiah 12 Imam, adalah mazhab yang sama seperti mazhab Ahlus-Sunnah, beribadah dengan mazhab tersebut dibolehkan dalam syariat. Kaum muslimin harus mengetahui hal ini dan terbebas dari fanatisme yang salah berkaitan dengan mazhab tertentu, sebab agama dan syariat Allah tidak tergantung pada satu mazhab khusus atau terbatas pada satu mazhab saja. Karena semua telah berjtihad dan, karena itu, mereka diterima di sisi Allah.”. Belaiau melanjutkan : “… (kita) melihat bahwa jarak antara Syiah dan Sunni sama seperti jarak antara fikih mazhab Abu Hanifah, Maliki atau Syafii.”

Di masa belakangan ini kita juga dapat menemukan berlimpah kesaksian dari para ulama Sunni tentang keabsahan berbagai mazhab dalam Islam. Yang paling penting di antaranya adalah kesaksian sedikitnya 146 ulama besar, cendekiawan Muslim, dan otoritas-keagamaan lainnya – termasuk para mufti dan pejabat resmi keagamaan – dari sedikitnya 48 negara, yang diberi nama Risalah ‘Amman. Di antara pokok isinya adalah : “Siapa saja yang mengikuti dan menganut  salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah  (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadhi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak  diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab  yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari  pengiku t/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.

Lebih  lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang  mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan  mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak  diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan  dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui  lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan  disepakati dalam agama Islam. Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam  mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka.

Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas  semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah  yang Mahaesa dan Mahakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan  bahwa Baginda Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua  sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat; kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah.

Semua percaya pada dasar-dasar akidah  Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para  rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan  di antara  ulama kedelapan  mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang  agama (furu’) dan tidak menyangkut  prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat  Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

Di antara para penandatangan risalah yang bertarikh 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M adalah : Prof. Dr. Ali Jumu’a (Mufti Besar Mesir), Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib (Rektor Universitas Al-Azhar), Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq (Menteri Agama Mesir), Dr. Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, Qatar), Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti (Dai, Pemikir dan Penulis Islam, Syria), Prof. Dr. Syaikh Wahbah Mustafa Al-Zuhayli (Ketua Departemen Fiqih, Damascus University), Shaykh Dr. Ikrimah Sabri (Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid al-Aqsha), Syaikh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz (Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim, Yaman), dan lain-lain. (Untuk daftar penandatangan selengkapnya, lihat website kami : www. muslim unity.com).

Tentu saja mudah diduga bahwa para ulama terkemuka ini tak akan begitu gegabah mengeluarkan pernyataan-pernyataan mereka tanpa terlebih dulu mempelajari dengan teliti seluruh dasar dan rincian mazhab-mazhab tersebut, termasuk tuduhan-tuduhan yang dilontarkan orang kepada mereka. Namun, yang tak kalah pentingnya, semua pernyataan  bijak di atas tidak akan banyak manfaatnya kecuali jika para pengikut mazhab-mazhab dalam Islam benar-benar dapat bersikap dan membawa diri sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan Islam.

Termasuk di dalamnya sikap menghormati keyakinan mazhab yang berbeda, mendahulukan persangkaan baik (husnuzh-zhan), juga kesediaan melakukan verifikasi (tabayun) dalam hal adanya tuduhan-tuduhan terhadap mazhab tertentu. Yang terpenting di antaranya adalah tidak merasa benar sendiri dan menganggap keyakinan mazhab lain sebagai salah, apalagi kemudian merasa perlu mendakwahan mazhabnya serta berupaya mengubah keyakinan para pengikut mazhab lainnya.

Akhirnya, marilah kita tutup seruan kerukunan ummat ini dengan mendengar peringatan dari 2 tokoh besar dalam kedua mazhab Islam ini. Ustad Anwar Jundi dan kitabnya Al-Islam wa Harikah al-Tarikh berkata: “Sejarah Islam penuh dengan pertentangan dan perseteruan pikiran serta pertikaian politik antara Ahli Sunnah dan Syiah.

Para agressor asing sejak Perang Salib sampai sekarang selalu berusaha memanfaatkan pertentangan ini dan memperdalam pengaruhnya agar persatuan dunia Islam tidak terwujud”. Sementara itu, Imam Khomeini dalam salah satu khutbahnya menyatakan : “Tangan-tangan kotor yang telah menciptakan pertentangan di dunia Islam antara Sunni dan Syiah bukan Sunni dan Syiah. Mereka adalah perpanjangan tangan imperialis yang ingin berkuasa di negara-negara Islam. Mereka adalah pemerintahan-pemerintahan yang ingin merampok kekayaan rakyat kita dengan berbagai tipuan dan alat dan menciptakan pertentangan dengan nama Syiah dan Sunni.”

Inilah juga pesan Risalah Amman : “…  kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara  sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di  antara mereka.” Semoga Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada ummat Islam di seluruh dunia.

Sebagai umat Muslim …. Bernabikan  Muhammad SaW  Bershalatkan Kepada Allah Ta’ala,kita harus bersatu melawan fitnah dajjal …yang lihai menyamar sebagai muslim tapi suka mengkafirkan mahdzhab lain dan  penentang  Dean allah

Walaupun kita semu Beda fiqih …tetapi kita Satu “Agama” yaitu Islam Yang Haq  masih selurus dengan apa yang di wariskan Nabi Menjaga Al-quran,Sunnah dan Ahlulbaitnya
Dan Rasululloh Bersabda

Rasulullah saw juga bersabda:

Barangsiapa yang mati dalam keadaan cinta kepada keluarga Muhammad, maka ia mati syahid. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan cinta kepada keluarga Muhammad, maka ia mati dalam keadaan diampuni. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan cinta kepada keluarga Muhammad, maka matinya sebagai orang yang bertaubat. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan cinta kepada keluarga Muhammad, maka matinya sebagai orang yang beriman, dan imannya sempurna. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan cinta kepada keluarga Muhammad, malaikat maut akan menyampaikan kabar gembira tentang surga (sebagai kediamannya)…”
Arjah Al-Mathalib, Ubaidillah Al-Hanafi, halaman 320.

Bersatulah Ahlulsunnah Dan Syiah (ahlulbaiti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: