Dialog antara Ahmaed Deedat dengan pendeta Rev. Roberts, Direktur Lembaga Alkitab Afrika Selatan


Pendeta Roberts membacakan suatu ayat dalam alkitab untuk saya.

Bacanya:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus.” (Yohanes 17:3)

Sesudah saya mendengarkan bacaannya dari kitab sucinya itu, saya menjawab,

“Saya menerima!” Maksudnya ialah menerima isi risalah yang ingindi sampaikan              kepada saya.

Pada waktu itu saya tidak mengatakan kepadanya bahwa apa yang disampaikan
kepada saya sama dengan apa yang dibawa A1-Qur’anul Karim kepada umat
manusia sejak empat belas abad yang lalu tentang kewajiban semua orang
untuk beriman “dengan Allah yang Maha Esa lagi Maha Kuat, dan bahwa Isa
Alaihissalam (Yesus Almasih) tak lain hanya seorang rasul dari Allah.

Kalimat Al-Qur’an itu berbunyi sebagai berikut:

Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam Itu adalah utusan Allah dan (yang
terjadi dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam dan (dengan
tiupan) roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan Janganlah kamu mengatakan: (Tuhan Itu) tiga.” (An Nisaa:171)

Sudah tentu pendeta Roberts senang sekali mendengar jawaban saya. Kemudian
ia cepat-cepat membuka kitab sucinya dan mencari ayat lain. Ia mulai
membaca kalimat-kalimat yang dikatakan dari Yesus. Bacanya:

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling
mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus
saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu.” (Yohanes 13: 34-35)

Setelah selesai membaca teks itu, saya menyambutnya dengan berkomentar:
“Baik sekali!” Rupanya jawaban dan komentar saya itu makin membuatnya lebih
berani. Untuk mendapatkan seorang penginjil baru ia membacakan ayat lagi:

“Jangari kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan
penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (matius 7:i-2)

Sebagai komentar atas paragraf itu saya menjawab, “Saya setuju!”

Sebab utama persetujuan dan penerimaan saya terhadap yang dibacakan pendeta
itu kepada saya, bukan untuk mendapatkan diskon khusus. Namun karena
kutipan-kutipan yang dibacakannya itu pada umumnya memiliki kesamaan dengan
risalah dan pikiran yang Allah berikan kepada kita untuk dikumandangkan,
diajarkan dan diamalkan. Kalau saya memisahkan segi-segi kebenaran antara
kaum Muslimin dan kaum Masehi maka itu berarti saya akan menjadi seorang
pendengki yang tidak punya toleransi.

Misalnya, saya mengatakan tentang sesuatu risalah tertentu dalam kitab kita
(Al-Qur’anul Karim) itu sangat baik, tapi mengatakan buruk sekali pada
risalah yang sama yang terdapat dalam kitabnya. Itu menandakan saya sudah
menjadi juara munafiq dan pekerjaan itu merupakan kepalsuan akhlak.

Apa tujuan yang sebenarnya ingin dicapai pendeta Rev. Roberts dalam
membacakan kitab sucinya kepada saya?

Memang benar, saya mendapatkan “diskon khusus” dari semua kitab yang saya
beli dari toko buku itu, dan mungkin saya satu-satunya orang non Masehi
yang mendapatkan diskon seperti itu. Dari ciri-ciri pakaian dan jenggot
saya, dia tentu tahu bahwa saya seorang muslim. Meskipun saya telah
diberinya diskon terhadap semua buku-buku yang saya beli tapi tetap saja
dia belum bisa merubah saya menjadi seorang Nasrani.

Dengan lemah lembut dan berusaha bijak bestari, sang direktur yarig pendeta
itu membacakan beberapa ayat Injil kepada saya untuk mengetahui reaksi
saya. Rupanya ia tidak tahu bahwa saya sudah mengetahui semua teks-teks
yang indah itu sejak lama. Malah akhirnya ia heran, mengapa hingga kini
saya belum juga menganut agama Masehi?

Selama ini pendeta yang sopan itu telah bertindak sebagai guru yang ingin
mengajar dan membantu muridnya mengetahui lebih dalam. Oleh karena Nabi
Muhammad Saw kita memerintahkan kepada kita dalam sabdanya: “Tuntutlah ilmu
dari buaian hingga liang ke lahad!”

“Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Cina!”

Sebagai umat Muhammad Saw saya amat bersemangat untuk belajar. Maka saya
berkata, “Saya sependapat dengan semua yang telah anda bacakan kepada saya.
Tetapi saya menemukan problem dengan kitab suci anda.”

Ia bertanya, “Problem apa kiranya yang menyulitkan anda?” Saya menjawab,
“Saya harap anda membaca Injil Lukas 3:23!” Maka ia pun melakukannya.

Saya berkata lagi kepadanya, “Tolong anda bacakan kepada saya!” la pun
membacanya.

“Ketika Yesus memulai pekerjaannya, la berumur kira-kira tiga puluh tahun
dan Dia (menurut anggapan orang) adalah anak Yusuf, anak Eli.”  (Lukas3:231)

Saya perlihatkan kepada pendeta itu kalimat yang diberi kurung: (menurut
anggapan orang). Lalu saya bertanya kepadanya, “Apakah anda melihat kalimat
yang diberi kurung itu?”

Ia menjawab, “Ya, saya melihatnya!” Lalu saya tanyakan kepadanya, “Kenapa
ada kalimat yang berkurung di situ?” Lantas ia mengakui dan berkata, “Saya
tidak tahu pasti, tetapi saya akan menanyakannya kepada salah seorang ahli
kitab suci.”

Saya heran dengan kerendahan hatinya. Padahal menurut saya, semua direktur
Lembaga A1 Kitab di Afrika Selatan berasal dari pensiunan pendeta. Akhirnya
saya berkata kepadanya, “Baiklah, kalau anda tidak tahu, ijinkanlah saya
yang akan memberitahukan kepada anda mengenai alasan diberinya kalimat yang
berkurung itu. Tidak usahlah anda bersusah-susah menanyakannya kepada ahli
kitab suci.”

Saya lalu menjelaskan hal itu kepadanya. Dalam “manuskrip” Injil Lukas
“yang lebih kuno” tidak terdapat kalimat “(menurut anggapan orang)”.
Sebenarnya ini hanya pekerjaan penerjemah Injil yang merasa bahwa tanpa
adanya tambahan (penjelasan) yang asing ini, dikhawatirkan “domba-domba
kecil”1 yang belum kuat benar imannya; akan tergelincir dalam keyakinannya,
bahwa Yusuf si tukang kayu itulah bapak yang sebenarnya dari Yesus. Dengan
alasan itulah, mereka memberikan tambahan penjelasan pribadi dan diberi
kurung agar jangan sampai terjadi kesalah-pahaman.

Selanjutnya saya menambahkan, “Sebenarnya saya tidak ingin mencari-cari
kesalahan dalam cara atau sistem kalian dalam menambah kalimat di antara
kurung itu untuk membantu para pembaca yang masih awam.”

“Tetapi yang membuat saya heran ialah karena dalam seluruh penerjemahan
kitab suci ke dalam bahasa Afrika dan bahasa Timur lainnya, kalian telah
membiarkan kalimat “menurut anggapan orang.” dan telah menghilangkan kedua
kurungnya itu. Kalau begitu tidak mungkinkah bangsa-bangsa di seluruh dunia
ini (selain Inggris) tidak memahami arti dan tujuan dari kedua kurung itu?”

Saya melanjutkan pembicaraan lagi, “Apa jeleknya orang-orang yang berbicara
bahasa Afrikaans? Kenapa kalian menyingkirkan kedua kurung itu dari Injil
terjemahan ke bahasa Afrikaan, sedang kalimatnya masih tetap?”‘

Mendengar uraian saya itu, sang Direktur yang pendeta itu langsung
memprotes, “Saya, tidak melakukannya.”

Saya lalu menjawab lagi, “Saya tidak menuduh anda. Tetapi kenapa lembaga Al
Kitab yang anda wakili dan para ulama kitab suci berani main-main “dengan
firman Allah”2 Bila Allah yang Maha Kuat tidak merasa perlu melindungi
Lukas dari kesalahan3 lantas apa orang lain mempunyai hak untuk menambah
atau menghilangkan suatu kalimat dari “kitab Allah”? Atas dasar hak apa
kalian membuat atau memalsukan “kalimat-kalimat Allah”?

Ada kemungkinan kalimat-kalimat tambahan yang diletakkan di antara dua
kurung itu, jika kedua kurungnya diangkat, maka akan dikatakan orang
sebagai keterangan dari Lukas juga. Karena dalam penyusunan Injilnya, ia
mendapat ilham dari Allah. Oleh karena itu pemalsuan yang disusupkan pada
teks-teks yang asli itu dengan sendirinya akan menjadi firman Allah juga.

Akhirnya saya sudahi uraian saya dengan kata-kata di bawah ini:

“Sesungguhnya ulama-ulama ketuhanan modern dewasa ini telah berhasil
gemilang. Sementara ahli kimia jaman dahulu telah gagal merubah logam yang
murah menjadi emas yang berkilau-kilauan.”

Dalam perbincangan ini, sang pendeta mengalihkan pembicaraan, ke luar dari
pokok pembicaraan semula. sehingga membuat saya berkata, “Hati-hatilah
tuan, tampaknya orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya
sendiri.”

Dia membalas perkataan saya dengan tajam dan cepat. Katanya, “Apakah dengan
begitu, anda bermaksud mengatakan bahwa anda lebih memahami bahasa saya
daripada diri saya sendiri?”

Saya menjawab, “Sungguh tidak tahu malu saya, kalau saya mengatakan kepada
orang Inggris, bahwa saya lebih memahami bahasanya.”

Ia bertanya lagi, “Lalu apa yang anda maksud dengan perkataan “tampaknya
orang-orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya sendiri”?”

Saya mengulangi peringatan saya sekali lagi, “Hati-hatilah tuan, kalian
membaca kitab suci dengan bahasa ibu kalian seperti yang dilakukan semua
kaum Masehi yang terdiri dari ribuan bahasa dunia. Meskipun begitu,
tampaknya setiap kelompok bahasa Masehi memahami bahwa suatu hakikat
bertolak belakang dari apa yang dibacanya.”

Pendeta itu bertanya lagi, “Maksud anda bagaimana?”

Saya melanjutkan pembicaraan, “Apakah anda ingat peristiwa ketika Yesus
muncul kembali, sesudah disebarluaskan pengumuman seolah-olah ia telah
disalib. la muncul sambil berkata kepada murid-muridnya, “Damai sejahtera
bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut. Mereka menyangka bahwa mereka
melihat hantu.” (Lukas 24:36)

Mendengar perkataan itu, sang direktur Lembaga A1 Kitab itu menyatakan
ingat terhadap peristiwa itu.

Lalu saya bertanya, “Apa yang membuat mereka (para murid) takut? Jika
seseorang melihat temannya datang, seharusnya ia memberikan reaksi yang
wajar dan normal. Menunjukkan rasa bahagianya yang luar biasa. Malah
biasanya ada yang menyambutnya dengan peluk cium yang mesra. Tapi mengapa
murid-murid Yesus itu malah takut metihat gurunya datang?!”

Sang pendeta menjawab, “Karena mereka (para murid) menyangka bahwa mereka
melihat hantu.”

Saya bertanya lagi, “Apakah Yesus menyerupai hantu?” Dia menjawab, “Tidak!”

Saya bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa mereka menyangka melihat hantu,
jika selama ini Yesus tidak menyerupai hantu?”

Tampaknya pendeta itu mendapat kesulitan besar. Aku berkata lagi,
“Ijinkanlah saya menafsirkan hal itu kepada anda.”

Lantas saya berkata kepadanya, “Hati-hatilah, tuan, sesungguhnya
murid-murid Almasih itu bukan saksi mata (eyewitnesses) atau saksi dengar
(ear-witnesses) atau saksi peristiwa hakiki yang terjadi selama tiga hari
yang lalu seperti yang diuraikan Markus, bahwa dalam situasi yang paling
berbahaya dan paling sulit dalam kehidupan Yesus: “Lalu semua murid itu
meninggalkan Dia dan melarikan diri.” (Markus 14:50)4

Jadi, semua berita yang diketahui murid-murid itu tentang Yesus diperoleh
dari desas-desus5 yang mengatakan, bahwa dia disalib dan mereka mendengar
dia sudah menghembuskan napas terakhirnya. Mereka juga mendengar bahwa dia
sudah dikubur selama tiga hari. Orang yang dijejali berita semacam ini6
tidak heran kalau mereka berkesimpulan seperti melihat hantu. Maka tidak
mengherankan kita bila kesepuluh muridnya yang pemberani itu kaget dan
terperanjat ketika melihat Yesus kembali.

“Untuk menghilangkan salah paham dan rasa. takut yang mengganggu mereka,
Yesus mengajak mereka menggunakan akal sehat, ucapnya, “Lihatlah tanganKu
dan kakiKu: Aku sendirilah ini.” (Lukas 24:39)

Dalam bahasa kita Yesus berkata kepada mereka, “Wahai, kawan-kawan! Kenapa
kalian tampak gelisahdan ketakutan. Tidakkah kalian melihat, bahwa aku ini
adalah gurumu yang selalu berjalan bersamamu, yang selalu
berbincang-bincang denganmu dan memecahkan roti bersamamu. Aku ini orangnya
dengan tubuh dan darahnya dari semua. sisinya. Apa yang membuat pikiran
kalian berubah dan ragu-ragu?”

“Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya,
seperti yang kamu lihat.” (Lukas 24:39)

Atau dengan kata lain, Yesus seolah-olah berkata kepada mereka, “Kalau aku
mempunyai daging dan tulang, maka dengan sendirinya aku bukan hantu, mayat,
atau roh!”

Saya bertanya kembali kepada pendeta itu, “Apakah uraian ini benar?”

Ia menjawab, “Ya, benar!”

Selanjutnya aku berkata, “‘Sesungguhnya Yesus memberitahukan kepada kalian
seperti yang tertera dalam nasnya dengan jelas dan dengan bahasa yang
sangat sederhana, bahwa tubuh yang diminta kepada murid-muridnya untuk
diraba dan dilihat itu bukan tubuh yang “diperbaharui”. Juga bukan tubuh
yang dirubah dan yang dibangkitkan. Tubuh yang dibangkitkan dari mati ialah
tubuh rohani (Spiritualized body). Dia menjelaskan kepada mereka dengan
bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bahwa dia tidak seperti yang
mereka duga. Murid-muridnya mengira bahwa dia adalah roh. Bahwa dia adalah
tubuh yang dibangkitkan ke dalam kehidupan setelah dari kematian. Tetapi
Yesus dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa dia tidak demikian.”

Mendengar uraian itu, sang pendeta bergumam. Tiba-tiba ia bertanya, “Namun
apa yang membuat anda yakin bahwa tubuh yang dibangkitkan dari mati tidak
akan dapat menjelma sebagai tubuh materi (materialize physically), seperti
yang dilakukan Yesus dengan jelas?”

Saya menjawab, “Karena Yesus sendiri yang mengatakan bahwa tubuh yang
dibangkitkan dari mati berubah ke alam rohaniah.”

Sang pendeta masih bertanya lagi dengan hati yang belum puas, “Kapan Yesus
mengatakannya?”

Saya menjawab, “Anda masih ingat peristiwa yang dicatat dalam Injil Lukas
20:17 ketika Yesus didatangi ahli-ahli Taurat yang sudah tua-tua. Mereka
mengajukan berbagai pertanyaan sulit dan pelik kepadanya. Antara lain
tentang wanita Yahudi yang kawin dengan tujuh orang lelaki silih berganti,
sesuai dengan adat Yahudi8. Setelah beberapa lama kemudian, meninggallah
ketujuh orang suami dan istrinya itu?”

Sang pendeta mengatakan, “Ya, saya ingat!”

Saya lanjutkan perkataan saya, “Adapun perangkap yang dipasang untuk Yesus
oleh ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu adalah untuk menggelincirkan Yesus
lewat pertanyaan ini:

“Siapakah di antara orang-orang (suami yang tujuh) itu yang menjadi
suaminya pada hari kebangkitan?” Mereka sudah menghujah Yesus, bahwa
“wanita itu adalah istri dari tujuh orang (semuanya)” Sewaktu mereka
menunaikan tugasnya masing-masing untuk mendapatkan anak keturunan dari
wanita itu memang tidak menemukan masalah apa-apa, karena mereka semua
adalah suaminya. Hal ini dilakukan silih berganti karena mereka
masing-masing mengawini wanita itu setelah suaminya meninggal dunia. Namun
pada hari kiamat, ketika ketujuh suami itu dihidupkan bersama-sama, akan
terjadi persengketaan hebat di langit. Mereka masing-masing ingin memiliki
bekas istrinya, apalagi kalau mereka merasa mendapatkan kepuasan yarig
mengesankan dari si istri sewaktu mereka hidup bersama dahulu.”

“Yesus berhasil menelanjangi kepalsuan pandangan mereka tentang kiamat dari
mati. Dia berkata kepada mereka, bahwa pada hari kiamat dari mati “mereka
tidak dapat mati lagi”. (Lukas 20:36) Ini berarti, orang yang dibangkitkan
dari mati akan hidup kekal (immortalized). Mereka tidak akan mati lagi.
Mereka tidak akan merasa lapar, haus dan letih. Walhasil, semua senjata
maut tidak akan mampu menewaskan tubuh yang sudah dibangkitkan dari mati.
Selanjutnya Yesus menafsirkan dalam sabdanya,

“Mereka (tubuh yang dibangkitkan dari mati itu) sama seperti malaikat.” Ini
berarti pembawaan mereka akan berubah yaitu ke alam malaikat, alam
rohaniah. Mereka akan menjadi makhluk rohaniah (artinya roh-roh). “Mereka
sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena
mereka telah dibangkitkan.” (Lukas 20:36)

Sang pendeta kemudian bertanya lagi dengan pertanyaannya yang menantang,
“Namun, apa yang membuat anda begitu yakin…?”

Pertanyaannya telah mengeluarkan saya dari pokok pembicaraan yang tengah
saya uraikan. Saya lanjutkan perkataan saya tadi, “Dia tidak demikian,
seperti yang mereka sangka. Dia tidak berubah jadi roh, hantu atau mayat.
Agar lebih jelas, ia memperlihatkan tangan dan kakinya untuk diteliti dan
diamati untuk membuktikan bahwa tubuhnya masih tetap sepeiti yang dulu
(material physical body) dan untuk menghilangkan kegelisahan dan keraguan
mereka yang tidak beralasan. Setelah itu ia bertanya kepada mereka, “Adakah
padamu makanan di sini?” (maksudnya, sesuatu yang bisa dimakan). “lalu
mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu
sedikit9). Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka10.”                  (Lukas24:41-43)

Lantas apa yang ingin dibuktikan Yesus dengan semua yang dilakukannya itu,
yaitu dengan memperlihatkan kedua tangan dan kakinya dan menyuruh mereka
merabanya. Yesus juga meminta makanan dan mengunyah ikan goreng dan sarang
madu yang mereka berikan (di hadapan mereka)?

Apakah kata-kata dan peragaannya itu hanya sekedar sandiwara atau permainan
komedi semata?

Untuk lebih jelasnya, baiklah, sekarang kami akan mengetengahkan jawaban
yang diberikan oleh F. Schleiermacher11 pada tahun 1819. Ia menjawab,
“Tidak!”

Ia mengucapkan jawaban itu seratus tahun yang lalu, sebelum saya
dilahirkan. Tuan Albert Schweizer mengabadikan kata-katanya sebagai
berikut: “Kalau Yesus hanya makan untuk membuktikan bahwa ia bisa makan,
padahal ia tidak benar-benar butuh makanan. Tentu hal itu hanya suatu
sandiwara semata dan hanya suatu Docetic12.

Ketika saya berbincang-bincang mengenai masalah ini dengan direktur Lembaga
Alkitab, saya belum tahu sedikitpun tentang F. Schleiermacher dan para
ulama Masehi lainnya yang juga meragukan kematian Yesus di atas kayu salib.
Hal ini juga diabadikan oleh Albert Schweizer dalam bukunya yang berjudul
“In Quest of the Historical Jesus”, page.64.

Apa yang membuat umat Masehi ragu-ragu? Bukankah Yesus sudah memberitahukan
kepada kalian dengan berbagai gaya bahasa yang jelas. Malah lebih
dijelaskan lagi dengan sebuah peragaan, untuk membuktikan bahwa dia adalah
manusia seutuhnya, bukan roh dan belum berubah ke alam rohaniah, dan bahwa
dia bukan manusia yang dibangkitkan dari kematian. Tapi biarpun begitu,
seluruh alam Masehi tetap meyakini bahwa Yesus telah dibangkitkan dari
kematian (Yang saya maksud ialah ia telah berubah ke alam rohaniah).

Lalu siapa yang telah berbohong, kalian atau dia?

Bagaimana mungkin kalian (semua umat Masehi) membaca kitab suci kalian
dengan bahasa ibu kalian meskipun mereka dan semua kelompok bahasa telah
dipersiapkan untuk memahami kebalikan dari yang mereka baca?!

Kalau anda membaca kitab suci anda yang berbahasa Ibrani, misalnya, lalu
anda mengatakan kurang paham dengan apa yang anda baca, kemungkinan saya
bisa menerima alasan itu. Begitu pula jika anda membacanya dalam bahasa
Yunani, lalu anda mengatakan tidak paham benar maksud dan tujuan yang
ditulis. Hal itu mungkin bisa saya terima dengan baik. Tetapi tampaknya
dalam diri kalian sudah ada perlawanan terhadap kaidah ketika kalian
membaca kitab suci sekalipun dengan bahasa ibu kalian.

Kalian juga sudah terlatih dalam memahami kebalikan dari apa yang tertulis.
Kalau sudah begitu, bagaimana caranya mencuci otak kalian? Atau seperti
yang dikatakan bangsa Amerika: Bagaimana caranya memprogram kalian?

Kalau begitu, saya mohon dengan sangat, supaya kalian memberitahukan kepada
saya, siapa yang berbohong, Yesus atau seribu juta umat Masehi di dunia
ini?

Yesus mengatakan: “Tidak!”, tentang kebangkitannya dari kematian. Sedangkan
kalian semua mengatakan: “Ya!”

Kalau begitu siapa yang patut dipercaya oleh kaum Muslimin, Yesus atau
orang-orang yang mengaku muridnya itu?

Kita sebagai kaum Muslimin sudah jelas akan mempercayai gurunya daripada
muridnya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, “Seorang murid tidak lebih
daripada gurunya.” (Matius 10:24)

Demikianlah perbincangan saya dengan direktur Lembaga Alkitab Durban.
Hasilnya ternyata lebih dari yang saya harapkan. Tapi akhirnya pendeta itu
mengakhiri percakapan dengan sopan sambil meminta maaf dan meminta ijin
untuk berpisah dengan alasan toko bukunya akan segera tutup. Dia berharap
dapat bertemu lagi dengan saya, tapi tampaknya ia melarikan diri dari
pembicaraan itu walaupun dengan cara yang sopan.

Saya berharap pembaca yang budiman dapat menyingkirkan sarang laba-laba
yang direntangkan pada akal anda yang dapat mengacau pikiran anda dalam
masalah “penyaliban”. Jika anda dapat memahaminya maka hal ini akan
merupakan hadiah besar untuk saya.

“Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba
berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera
bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat
hantu. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan apa
sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tanganKu dan
kakiKu: Aku sendiri ini; rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada
daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu.” Sambil berkata
demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. Ketika mereka
belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah 1a kepada
Mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepadaNya
sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit)13.

Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka”. (Lukas 24:36-43).

01. Dalam bicaranya. Ahmed Deedat menggunakan kata (little lambs) seperti
yang digunakan Yesus dalam mengisyaratkan para pengikutnya. Yesus berkata,
“Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Lukas
10:3) Mungkin yang dimaksud penulis dengan “domba-domba kecil” ialah para
pengikut yang baru (penerjemah).

02. Dalam transkript bahasa Arab keluaran Lembaga A1 Kitab di Timur Tengah
kalimat “(menurut anggapan orang)” tetap ada, tapi kedua kurungnya sudah
dihilangkan. Begitu pula dalam transkript bahasa Indonesia keluaran Lembaga
A1 Kitab Indonesia, Jakarta, 1977.

03..Kaum Masehi berkeyakinan bahwa semua Injil yang sah itu ditulis oleh
para “murid” dengan wahyu dari Roh Kudus. Namun berdasarkan bukti ilmiah
terbukti bahwa keempat injil yang dikatakan sah dewasa ini, tidak satu pun
yang ditulis oleh kedua belas murid pilihan Yesus! (Baca Encyclopedia
Britanica, V-3, P. 573; V-13, P.83; V-14, P. 911 dan 912).

04. Injil Mateus dalam hal ini lebih jelas. Ujarnya. “Lalu semua murid itu
meninggalkan Dia dan melarikan diri.” (Matius 26:56)

05. Lukas meyakinkan hal itu pada pembukaan Injilnya. Ujarnya, “…Seperti
yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang dari semula adalah saksi mata
dan pelayan firman.” (Lukas 1:2)

06. Lukas juga meyakinkan kita bahwa murid-murid itu tidak percaya ketika
mendengar desas-desus yang disebarluaskan orang tentang gurunya. Ujarnya,
“Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong-kosong dan
mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguhpun demikian
Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke
dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya
dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.” (Lukas 24:11-12)

Memang aneh bin ajaib, bagaimana mungkin mereka merasa heran, padahal Gurumereka sudah meramalkan dan memberitahukan hal yang diherankan oleh mereka itu?!

07. Lihat Lukas 20:1
08. Lihat Ulangan 25:5-1
09. Dalam Lukas 24:43, (dan sarang madu sedikit) terjemahan dalam bahasa
lndonesia, keluaran Lembaga Alkitab Indonesia, ]akarta, 1977, ditiadakan!

10. Dalam terjemahan Inggris katolik salinan dari naskah bahasa Vulgar
latin, terdapat tambahan sebagai berikut: “And when he had eaten in their
presence he took what remained and gave it to them.” Kalimat inipun dalam
terjemahan bahasa Indonesia tidak ada!

11. F. Schleirmacher, salah seorang ulama kitab suci dan penemu teori
tentang sumber-sumber Injil yang empat. Diketengahkan pada tahun 1832 M.
“Dia memperkirakan adanya kumpulan kecil tulisan atau fragmen. Dari sanalah
para pengarang lnjil menulis Injilnya. (Fragments hypothesis)

12. Docetic berasal dari Docetism, yaitu suatu paham, bid’ah dalam agama.
Paham ini bertentangan dengan aliran yang resmi sejak abad kedua Masehi. Ia
mengatakan bahwa tubuh Almasih itu hanya seperti hantu (semblance), maya
(phantom) atau benda semacam ether (etheral substance). Kata itu berasal
dari bahasa Yunani, “dokesis”, artinya maya, hantu atau dokeein (to seem),
berarti: tampaknya. Maksudnya ialah sesuatu yang disebutkan tentang atau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: