Kolonialisme dan Kristen (agama penjajah)


Kolonialisme Dan Misi Kristen Dalam Sejarah Indonesia

Kolonialisme dan misi Kristen mempunyai hubungan sangat erat. Di negara-negara Muslim, keduanya sering dibantu oleh orientalisme sehingga menjadi gerakan bersama Barat untuk menghadapi Islam. Fakta sejarah pun menunjukkan bahwa gerakan kolonialisme selalui disertai oleh kegiatan misionaris Kristen dan orientalis. Banyak sarjana, baik dari kalangan Muslim maupun Barat, mengakui hal itu.

Dari kalangan Muslim misalnya

Muhammad Al-Ghazali , Musthafa Khalidi, Umar Farukh, Abdurrahman Habanakah Al-Maidani, Anwar Al-Jundi, Muhammad Natsir, dan H.M. Rasyidi. Adapun dari kalangan sarjana Barat antara lain Robert Delavignette , Stephen Neill , Katie Geneva Cannon , Livingstone M. Huff , Horst Gründer , dan Edward W. Said .

Seperti negara Muslim lain yang pernah dijajah oleh bangsa Barat, Indonesia mempunyai pengalaman sejarah mengenai hubungan erat antara kolonialisme dan misi Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa Kristenisasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekspansi kolonialisme. Agama Kristen datang dan menyebar seiring dengan datang dan menyebarnya kolonialisme Barat. Portugis maupun Belanda sama-sama datang dengan membawa misi Kristen. Di dalam Encyclopædie van Nederlandsch-Indië disebutkan,

“Mengenai sikapnya terhadap perkara agama di kepulauan ini (Nusantara), orang Belanda berdasarkan contoh sama dengan orang Portugis. Di mana pun dia tinggal dan menjumpai pribumi Kristen, keadaan mereka itu tidak disia-siakannya. Sebaliknya, di mana pun belum ada pribumi Kristen, dia berusaha menyebarkan Kristen di tengah-tengah mereka.”

Namun demikian, sebagian sarjana Kristen mengingkari adanya hubungan saling menguntungkan antara kolonialisme dan misi Kristen. W.B. Sidjabat, misalnya, berusaha mengelak bahwa kekuasaan kolonial Belanda ikut membantu penyebaran agama Kristen di Indonesia. Menurutnya, kaum misionaris sama sekali tidak ada kaitannya dengan ambisi duniawi kaum kolonialis. Penyebaran agama Kristen lebih disebabkan oleh kuasa Al-Kitab dan bukan terutama disebabkan oleh upaya orang-orang Kristen.  Sarjana Kristen lain yang menolak asumsi di atas adalah Chris Hartono dan Adolf Heuken SJ.

Menurut Chris Hartono, pernyataan bahwa meluasnya penjajahan dan kemajuan karya zending sama-sama merupakan wadah ekspansi Barat adalah tidak benar, sekurang-kurangnya tidak tepat, karena di antara keduanya terdapat perbedaan yang hakiki.

Sementara itu, Adolf Heuken SJ menyatakan bahwa tidak selamanya pemerintah kolonial memberikan bantuan dan perlindungan kepada misi Kristen. Menurutnya, pemerintah kolonial juga sering menghambat upaya penyebaran Kristen sampai 1942. Lebih lanjut, dia mengatakan, “Tuduhan bahwa misi dimanja oleh pemerintah kolonial merupakan fitnah yang tak pernah disertai data (yang memang tidak ada).”

Kedatangan Bangsa Barat dan Penyebaran Agama Kristen

Beberapa sarjana Kristen berpendapat bahwa pengkabaran Injil ke beberapa tempat di Indonesia ini sudah dimulai pada zaman Patristik, pada masa sebelum kedatangan Islam. Diduga bahwa orang-orang Kristen Nestorian dari Mesir dan Persia sempat singgah di beberapa tempat di Indonesia dalam perjalanan mereka ke Tiongkok pada abad V.

Peristiwa ini terjadi pada masa menjelang timbulnya Kerajaan Sriwijaya.  Namun demikian, nasib agama Kristen untuk jangka waktu yang lama tidak begitu jelas setelah periode ini dan tidak meninggalkan bekas. Tidak ada data sejarah yang dapat menjelaskan perkembangan Kristen Nestorian itu.

Baru pada awal abad XVI agama Kristen mulai berkembang dan menyebar dengan kedatangan bangsa Barat ke Indonesia. Pada masa itu, Spanyol dan Portugis memelopori bangsa Eropa dalam ekspedisi pelayaran keliling dunia. Orang-orang Spanyol melakukan pelayaran ke arah barat, sedangkan orang-orang Portugis melakukan pelayaran ke arah timur hingga tiba di Indonesia. Ekspansi Portugis dan Spanyol mendapatkan restu dari Paus Alexander VI.

Pada 4 Mei 1493, dia membagi dunia baru antara Portugis dan Spanyol. Salah satu syaratnya adalah raja atau negara harus memajukan misi Katolik Roma di daerah-daerah yang telah diserahkan kepada mereka itu. Paus Alexander VI juga mengajarkan bahwa bangsa-bangsa di luar Negara Gereja Vatikan yang tidak beragama Katolik, dinilai sebagai bangsa biadab. Negara atau wilayahnya dinilai sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik).

Semangat Perang Salib sangat kuat mendorong ekspansi Portugis. Mereka memandang semua penganut Islam adalah bangsa Moor dan musuh yang harus diperangi. Oleh karena itulah ketika Alfonso d’Albuquerque berhasil menduduki Malaka pada 1511, dia berpidato,

“Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini… Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka (orang-orang Moor), Kairo dan Mekah akan hancur total dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugis.”

Portugis datang ke Malaka, kemudian ke Nusantara, dengan membawa para misionaris. Penyebaran agama Kristen Katolik menjadi tujuan utama mereka, bukan pekerjaan sambil lalu saja. Di setiap wilayah yang ditaklukkan Portugis, misi Katolik segera masuk dan mengkonversi penduduk dengan cara paksa dan tidak mengenal toleransi beragama.

Para misionaris Portugis tidak menghiraukan agama Islam yang telah dianut oleh penduduk di Maluku. Portugis mengadu domba penduduk yang telah berhasil dikristenkan untuk bermusuhan dengan orang-orang Islam. Malah mereka dipakai sebagai senjata untuk memerangi orang-orang Islam, seperti yang pernah terjadi dengan orang-orang Hatiwe yang digunakan tenaganya untuk memerangi Hitu. Agresi-agresi Portugis dengan Kristenisasinya telah memaksa mereka yang tidak rela meninggalkan agama Islam untuk lari meluputkan diri meninggalkan kampung halamannya, mencari tempat yang aman dari incaran Portugis.

Penyebaran Kristen Katolik oleh para misionaris Portugis di wilayah-wilayah Islam terkadang dilaksanakan pada hari Jum’at tepat waktu shalat. Pada waktu itu semua orang laki-laki berada di masjid, sedangkan wanita dan anak-anak berada di rumah. Mereka yang dapat meloloskan diri dari kepungan Portugis terpaksa lari meninggalkan keluarganya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi di wilayah-wilayah Islam di pulau Ambon, seperti Negeri Lama (Pasolama), Suli, Wai dan lain-lain.

Misionaris Portugis paling sukses dalam menyebarkan Kristen Katolik di Maluku adalah Franciscus Xaverius. Dia tiba di Ambon pada Februari 1546. Setelah tiga bulan bekerja di sana, dia mengunjungi Ternate, Halmahera dan Morotai, lalu pulang lagi beberapa waktu ke Ternate dan Ambon, kemudian kembali ke Malaka. Selama 15 bulan bekerja di Maluku, Xaverius berhasil membaptis ribuan orang. [24]Xaverius pernah menulis, ”Jika setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen.” 

bersambung….

ke…..http://forum.muslim-menjawab.com/2012/01/21/kolonialisme-dan-misi-kristen-dalam-sejarah-indonesia-1/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: